Your life, Your Time

Sebuah catatan dari film In Time

In Time yang rilis pada Oktober 2011 ditulis dan disutradarai oleh Andrew Niccol ini adalah salah satu film sci-fi dimana berkisah tentang kehidupan manusia yang bergantung pada waktu yang tertanam di lengan kiri mereka. Manusia ini bisa hidup abadi atau bahkan mati pada detik itu juga. In Time mencoba masuk pada labirin imaji mengenai manusia yang menggantungkan hidupnya pada waktu, bahkan bisa juga dikatakan manusia harus bijak memanfaatkan waktu yang diberikan padanya. Waktu itu hanya terbatas sampai pada usia 25 tahun. Maka, bagaimana manusia bisa mengolah waktu sebelum usia 25 tahun itu sehingga mempunyai waktu 100 tahun lagi atau abadi.

Sinopsis

            Will Salas yang diperankan oleh Justin Timberlake ini berupaya memutuskan jurang antara si kaya (ukuran kaya dalam film ini adalah apabila memiliki waktu di lengannya dalam jumlah banyak, misal 100 juta tahun kedepan, 1000 tahun kedepan atau bahkan abadi) dengan si miskin yang bahkan harus selalu meminjam waktu di bank waktu. Uang tidak menjadi penting dalam film ini. Karena yang teramat penting adalah waktu. Jika kita mengingat pepatah time is money, dalam film ini kita bisa membuktikannya bagaimana manusia harus mengolah waktu mereka sedemikian rupa untuk tetap bisa hidup.

            Malam itu, Will Salas bertemu dengan seseorang yang akan dirampok waktunya, dialah Henry Hamilton yang mempunyai waktu ratusan tahun di lengannya. Will menyelamatkan Henry dan membawanya ke sebuah gedung kosong. Usia Henry berdasarkan hitungan waktu sudah memasuki ratusan tahun dan baginya hidup tak harus selalu abadi. Henry menginginkan kematian. Mereka bermalam di gedung tua itu hingga paginya, Will menyadari bahwa Henry telah memberikan semua kekayaan waktu kepadanya dan menyisahkan waktu untuk bisa melihat langit dan kota di atas jembatan sebelum ia mati.

            Kini, Will Salas menjadi orang yang sangat kaya di kotanya. Tetapi hal demikian justeru membuatnya khawatir. Maka ia pun melarikan diri ke kota orang-orang kaya, di New Greenwich. Di kota itu tidak ada orang yang bergerak cepat karena mereka mempunyai waktu yang banyak. Gerak-gerik Will yang berbeda itu diketahui oleh Sylvia Weis (diperankan oleh Amanda Seyfried) anak dari pengusaha dan orang terkaya. Sylvia tidak pernah melakukan hal yang ‘gila’ dan bersama Will dia melarikan diri ke kota kelahiran Will. Will menjadi buronan penjaga waktu karena dianggap sebagai pencuri waktu dari Henry Hamilton, sementara Will juga menjadi buronan dari pencuri yang hendak mencuri waktunya Henry. Bersama Sylvia mereka bahkan membagi-bagikan waktu yang disimpan di bank milik keluarga Sylvia kepada rakyat miskin.

Review

            Konsep dalam film In Time ini sangat brilliant dan mendalam. In Time berhasil menjadi methapor yang menyinggung kehidupan sosial dimana kebanyakan orang kaya tidak peduli dengan kehidupan orang miskin. Bahkan bagaimana manusia seharusnya memanfaatkan waktunya dengan sebaik mungkin sebelum mereka kehabisan waktu yang diberikan kepadanya.

            Namun, In Time menghadirkan kebingungan karena plot yang dihadirkan begitu melebar. Kasus pemburuan yang dilakukan penjaga waktu, kemudian pencurian atas Sylvia dan waktu 1 miliar milik ayahnya hingga pertarungan antara orang miskin dan kaya tidak tergarap dengan maksimal. Sehingga terkesan kurang matang. Dan juga karakter Will dan Sylvia yang datar dalam memerankan orang yang berani melawan takdir akan waktunya juga ketika ia harus berhadapan dengan si penjaga waktu.

            Menonton film ini mengingatkan saya pada film Science Fiction berjudul Inception yang diperankan oleh Leonardo Dicaprio dan disutradarai oleh Chrisopher Nolan dimana film ini menjadi film yang berhasil membawa science fiction dan imajinasi penonton menjadi liar dan bebas. Jika dibandingkan dengan film ini, In Time masih harus dikaji ulang sebelum benar-benar ditayangkan. Untuk pesan moral dan kemanusiaan dari In Time bisa sampai kepada penonton (saya).

Oleh D

Umah Ibu, 5 Juli 2019

Iklan

Dia Yang Maha Lembut

          Selembut itu Dia menuntunku pada jalan yang benar. Jalan yang membawa aku pada kemudahan dan tujuan. Pernahkah kamu merasakan bagaimana dirimu seperti dituntun, tetapi Dia yang menuntun ini begitu lembut, sehingga bahkan mungkin bisa saja kamu tidak menyadari bahwa kamu sedang dituntun olehNya. Karena Dia begitu lembut dalam membuka mata dan telinga kita, menggerakkan diri kita, membuat kita melangkah, mengubah hati kita yang berada dalam ketidaktahuan menjadi tahu, membuat kita sadar dan mengerti begitu saja? Pernahkah kamu merasakan hal demikian?

           Pagi ini saya merasakanNya lagi. Ketika saya berangkat menuju kantor dan masuk ke dalam perkomplekan mewah yang berada di tengah kota. Tanpa berpikir karena saya sendiri juga tidak tahu jalan yang akan saya pilih, saya dituntun olehNya hingga menemukan jalan keluar. Dalam keadaan demikian, saya menyadari bahwa DiriNya telah menggerakkan tangan saya untuk bergerak, menggerakkan hati saya, menggerakkan mata saya untuk melihat jalan yang benar. Semua bergerak begitu lembut, tanpa ego dan begitu menenangkan.

          Mungkin teman-teman juga pernah merasakan hal yang sama. Saya pun beberapa kali mengalami hal ini, hanya saja kadang tidak dengan kesadaran bahwa semua itu adalah caraNya menuntun saya dan menolong. Pagi itu, di bawah matahari yang teduh, jantung saya lemas dan hampir lari dari tempatnya, menyadari Dia yang hadir dengan penuh kelembutan. Membuat mata-hati yang tidak mengetahui arah kebenaran menuju pada jalanNya. Dialah Yang Maha Lembut dan Penuntun, mengapa saya yang menjadi ciptaannya berani merusak lembutNya dengan ego sendiri? Sesungguhnya, Allah tak membutuhkan apapun dari ciptaanNya, melainkan ciptaanNya yang membutuhkan diriNya. Selalu dan selalu.

Oleh D
Umah Bapak, 1 Juli 2019

Apa yang Kau Bela?

Apa yang kau bela dalam panggung kemanusiaan ini?

Beragama tanpa kebudayaan, membuat agama tercerai dari kenyataan
sehingga rawan penyelewengan dan terdistorsi karena mengabaikan prinsip kemanusiaan.

                Betapa keren Allah karena menciptakan manusia berragam; ragam pikiran, wujud, bahkan pada kultur budaya. Allah sebagai Dia Yang Esa dan satu-satunya Yang Maha Esa, saya kira tidak ada tandingan. Artinya tidak perlu dibela karena Dia bukan manusia yang lemah yang butuh pembelaan. Dialah yang menciptakan seluruh semesta ini.

                Ketika bangsa ini diuji oleh banyaknya umat yang merasa perlu membela Allah, maka disanalah cikal bakal kehancuran datang. Tentu saja itu pendapat pribadi saya. Karena ketika demikian yang dilihat hanya diri mereka atau kelompok mereka yang hebat bahkan lebih hebat dari penciptanya. Hebat dari pemikiran, pengetahuan dan karena itu merasa harus membela Allah bahkan bisa dengan cara penyelewengan dan mengesampingkan kemanusiaan.

                Kita melihat, mencatat dan mengenang bagaimana mereka yang berani berteriak atas nama Allah dan merasa perlu membela DiriNya itu bahkan melakukan pengerusakan dan melukai sesamanya. Jika demikian sebenarnya apa yang sedang dibela mati-matian? Tuhan Yang Esa atau dirinya yang angkuh?

                Hal itu terjadi saya rasa karena manusia memandang agama berdiri sendiri. Sementara agama juga harus dibarengi dengan aspek kebudayaan supaya tidak terjadi distorsi dan penyesetan pikiran. Beruntung sekali kita tinggal di satu negara yang kaya akan kebudayaannya, juga keanekaragaman hayatinya. Bukankah tanah Indonesia Raya adalah surga dunia yang diberikan olehNya. Kebudayaan yang lahir di bangsa ini menjadi sebuah media untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam nilai agama. Misalnya, bagaima agama mengajarkan cinta kasih kepada seluruh umat bahkan kepada makhlukNya yang lain seperti pepohonan, hewan dan langit.

Kebudayaan meresponnya dengan adanya upacara adat, nyanyian-nyanyian, persembahan untuk alam dan mengajarkan bagaimana hidup beriringan dengan alam tanpa merusak. Bahwa manusia tidak bisa berdiri sendiri sebagai seorang makhluk. Butuh udara untuk bernafas, air untuk minum, makanan dan bahkan peran dari pohon-pohon dan hewan lainnya untuk melangsungkan kehidupannya.

                Ketika agama berdiri sendiri maka menjadi agama menjadi kaku, seperti yang saya katakan bisa terjadi penyelewengan karena tidak dapat disesuaikan dengan kultur budaya setempat. Kebudayaan adalah kebiasaan yang dibentuk oleh manusia itu sendiri. Agama dan kebudayaan yang jalan berdampingan inilah akan menciptakan kedamaian bersama dimana kemanusiaan berada di atas atau lebih penting dari kepentingan seseorang. Justeru dengan adanya kebudayaan, seseorang tidak akan menghilangkan karakter kebangsaan di dalam dirinya. Kita adalah masyarakat Indonesia, masyarakat Nusantara. Sehingga islam yang diterapkan adalah islam Nusantara bukan islam keAraban. Kristen yang diterapkan adalah Kristen Nusantara begitu seterusnya. Dengan demikian, agama-kebudayaan dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan menuju satu cita-cita luhur yaitu persatuan Indonesia dan perdamaian.

Dalam sebuah kolomnya, Gus Dur pernah menuliskan bahwa ada penelitian yang dipimpin oleh Dr. Mochtar Buchori dari LIPI, tentang empat belas sistem budaya di negeri kita. Hasilnya sangat menarik, bahwa penting sekali untuk terus menerapkan sistem-sistem budaya daerah di saat sistem modern belum sepenuhnya bisa diterapkan.

Penelitian itu menunjukkan bahwa sistem budaya daerah kita mempunyai kemampuan hidup yang luar biasa di tengah arus modernisasi yang menggempur masyarakat demikian pesatnya. Maka dari itu, Gus Dur meyakini pentingnya memanfaatkan sistem budaya di masing-masing daerah, sambil menunggu kesiapan masyarakat dalam menghadapi modernitas dan mengelola arus perubahan. Ia percaya bahwa dengan jalan ini, dampak negatif dari arus modernisasi bisa sedikit teratasi.

Oleh D

Depok, 20 Juni 2019

Kusebut namanya; Asumsi

Memandang kehidupan tidak bisa hitam-putih. Tidak dengan mudah menyimpulkan inilah positif atau itu negatif. Positif ataupun negatif adalah asumsi seseorang terhadap sesuatu. Sementara setiap orang punya asumsinya sendiri. Tidak semua hal yang terlihat buruk itu negatif, begitupun sebaliknya. Misal sebuah perbedaan. Perbedaan itu bukan sesuatu yang negatif (lantaran tidak sesuai dengan diri kita; pendapat, kemauan atau bahkan espekstasi kita sendiri). Perbedaan justeru memberi warna baru. Hal yang positif juga tidak selalu akan berdampak positif. Misal, seseorang yang amat patuh bahkan ketika ia diminta untuk menyembunyikan kejahatan, orang yang patuh itu akan menyembunyikannya. Maka, bagi saya pribadi, positif atau bahkan negatif adalah soal asumsi atau bisa dikatakan perspektif pribadi bagaimana dan dari mana kita memandang sesuatu itu. Tidak ada kebenaran mutlak yang dibawa oleh manusia.

            Dalam menyusuri waktu kehidupan, menjadi pribadi yang berbeda itu memang punya banyak resikonya. Bisa jadi ia akan dianggap negatif atau bahkan dijauhkan dari lingkaran. Banyak sekali orang sukses yang mengalami hal ini, atau bahkan cita-cita mereka ditertawakan, kerja keras yang tidak dihargai dan pendapat mereka dianggap membawa pengaruh buruk. Melihat kondisi demikian memang amat menyebalkan tetapi saya barulah engeh bahwa ciri kehidupan memang demikian. Harus demikian. Peristiwa kehidupan tidak melulu hal-hal baik, tetapi harus ada hal buruk. Mengapa? Karena segala kebaikan tidak bisa berdiri sendiri bila tidak ada hadirnya keburukan. Kita tidak akan kenal kenyang bila tidak ada lapar. Tidak akan memahami apa itu keadilan bila tidak ada ketidakadilan. Tidak akan memahami seperti apa kemanusiaan bila tidak ada kedzoliman yang menghampiri. Keteraturan ada karena adanya ketidakteraturan. Oposisi biner.

            Menyeragamkan pikiran adalah sebuah laku yang sia-sia. Karena manusia hadir bahkan membawa bekal perbedaan. Begitu tumbuh ia berdiri menjadi manusia pengetahuan yang menyerap pengetahuan itu dari lingkungannya, pergaulannya, buku yang dibaca, film yang ditonton bahkan asmara yang dijalani oleh seseorang.

Yang ada dalam dirinya adalah kumpulan pengetahuan-pengetahuan. Sementara pengetahuan ini adalah konsep, asumsi, definisi yang tidak bisa memberikan kepastian akan kebenaran mutlak.

            Andai kamu bayangkan betapa kompleksnya system pemikiran manusia. Setiap saat kita menuju bifurkasi dan bila ditekan dengan satu turbulensi saja maka kita siap meledak. Kita bicara soal norma, sosial, keberadaan agama, hukum benar dan salah, matematis dan bahkan cita-cita dari apa yang kita lihat atau katakanlah asumsi kita sendiri. Asumsi yang benar di mata dan hati kita. Kemudian kita menjelma menjadi Tuhan di dunia, yang menentukan kebaikan dan keburukan, menentukan seseorang itu negatif ataupun positif, atau bahkan mengkafirkan orang lain. Dengan dalih, ‘ini kan sesuai dengan norma, sesuai agama, sesuai dalil dan ayat-ayat. Sesuai dengan hukum benar-salah’ yang bisa jadi dicaplok secara serampangan. Melihat kebaikan dan keburukan secara hitam-putih. Makin banyak asumsi yang kita ciptakan, kita makin tidak peduli pada hakikat.

Sesungguhnya, ini menjadi cermin untuk saya secara pribadi. Menjadi pembelajar adalah kewajiban selagi kesempatan hidup diberikan.

Oleh D

Umah Bapak, 16 Juni 2019

 

 

*fotogoogle

Melihat Dunia dengan Cinta

Sebuah Catatan Film Aladdin 


Aladdin versi live-action yang di remake dari versi pertamanya tahun 1992 ini berhasil disajikan sesuai ekspektasi. Masih dalam garis besar cerita yang diangkat dari dongeng 1001 malam itu mengisahkan seorang yatim piatu bernama Aladdin (diperankan oleh Mena Massoud) bertahan hidup dengan menjadi pencuri bersama seekor monyet bernama Abu. Aladdin pertama kali bertemu dengan Jasmine (diperankan oleh Naomi Scott) di pasar dan saat itulah ia mencintai putri raja Agrabah. Film ini menjadi begitu berkesan dan berwarna ditambah karena peran Genie (diperankan oleh Will Smith) yang lucu dan menghidupi setiap suasana lewat kata-kata yang terlontar hingga pada tingkahnya. Apalagi ketika Aladdin disihir menjadi seorang raja, yaitu Prince Ali dan membawa rombongan gajah, unta, penari dan masih banyak lagi untuk melamar Jasmine di Agrabah. Upacara lamaran ini dipimpin oleh Genie dengan musikal yang ceria, menghibur dan menyenangkan.

Sinopsis

           Pertemuan Aladdin dengan Jasmine berawal di pasar ketika Jasmine memberikan sepotong roti, karena tidak mempunyai uang, maka Jasmine dituduh pencuri oleh si penjual. Rakyat tidak mengetahui bahwa dihadapan mereka adalah putri dari raja Agrabah. Karena memang, Jasmine tidak pernah keluar dari istana. Aladdin yang jatuh cinta saat pertama kali bertemu itu menolong Jasmine dengan trik menipu penjual. Pertemuan itu berlanjut secara diam-diam karena Aladdin harus mengembalikan gelang pemberian ibu Jasmine yang dicuri ole Abu.

           Upaya Aladdin mengembalikan gelang itu diketahui oleh Jafar, penasihat dan juru bicara Raja. Aladdin dan Abu dibawa ke gurun pasir dan diminta mengambil lampu ajaib dan Jafar menjanjikan Aladdin menjadi seorang raja untuk mempersunting Jasmine

   Singkat cerita, Aladdin berhasil mengambil lampu ajaib itu, tetapi Jafar mengkhianatinya dengan tidak menolong Aladdin di tebing sebelum pintu masuk-keluar gua itu tertutup bebatuan. Untungnya, sebelum benar-benar tertutup Abu berhasil mencuri lampu itu dari Jafar dan membawanya kepada Aladdin. Saat Aladdin menggosok lampu itu keluarlah Genie dan ia pun akan mengabulkan 3 permintaan kepada tuannya.

         Permohonan Aladdin adalah Genie menjadikan dirinya Prince dan bisa melamar Jasmine. Perjalanan Aladdin untuk mendapatkan Jasmine ternyata menyelesaikan masalah kerajaan karena Jafar ingin berkuasa menjadi sultan.

Review

      Dari beberapa film live-action Disney lainnya seperti Beauty and The Beast, Cinderella dan Dumbo, Aladdin menjadi film yang jauh lebih baik, berkesan dan lebih hidup. Bahkan ketika Jasmine menyanyikan lagu Speecless saat ia hendak dipenjara oleh Jafar, menyiratkan bahwa perempuan berhak bersuara dan suaranya berpengaruh pada perubahan. Aladdin membawa nilai lain selain tentang strata sosial dalam kehidupan bermasyarakat juga bagaimana pengaruh perempuan pada perubahan.

          Film ini menjadi rekomendasi untuk ditonton. Disney menghadirkannya dengan sangat rapih dengan tetap menyesuaikan kondisi yang terjadi saat ini tanpa menggeser cerita awal Aladdin di tahun 1992. Selain itu kita juga bisa belajar dari bagaimana Aladdin menyikapi semua makhluk sebagai sahabatnya. Dia tidak menjadikan dirinya sebagai tuan yang harus dilayani. Menjadikan genie sebagai teman adalah salah satu sikap manusiawi yang bisa diterapkan zaman sekarang ketika kemanusiaan semakin terkikis karena kekuasaan, kekayaan dan kepentingan.

Oleh D

 

Seorang Karyawan

            Namanya Karso. Itulah nama lengkapnya, ya, cukup Karso. Nama pemberian bapak dan emak. Katanya di satu hari sebelum mereka beranjak pikun, emak berkisah kalau nama Karso diberikan dengan harapan kelak menjadi anak yang kuat secara lahir maupun batin dan menjadi seseorang yang terus bergerak seperti air sehingga menjadi inspirasi untuk manusia lain dalam menapaki perubahan. Emak dan bapak memang begitu puitis, padahal mereka bukan penyair atau sastrawan. Mereka hanya wong ndeso yang masa mudanya dikerahkan menjadi buruh di perkebunan. Keinginan mereka mungkin sama seperti orang tua yang tinggal di kampung Karso, yaitu anaknya menjadi seorang karyawan dan hidup dengan kecukupan, apalagi mampu membawa perubahan di kampung halaman.

            Mimpi emak dan bapak diijabah oleh Allah. Langkah Karso untuk menyandang status karyawan rupanya dipermudah olehNya. Kebanyakan orang di kampung berkeyakinan bahwa doa emak dan bapak begitu mujarab dan tulus, setiap sembahyang nama Karso selalu terdengar dan emak kerapkali bersenandung shalawat dan mengirimkan alfatihah untuk anak satu-satunya itu.

            Karso tumbuh menjadi anak yang mempunyai budi pekerti baik. Ajaran sejak kecil mengenai tradisi Jawa yang mengenal unggah-ungguh diterapkannya dimanapun ia berada. Bahkan ketika ia hidup di belantara kota. Bagi Karso, kota lebih liar daripada hutan dan kampungnya. Di kampung, orang-orang masih mengenal tradisi, masih mengenal kesopanan kepada orang tua dan yang dituakan, bahkan kepada leluhur masih ada rasa hormat dan segan. Orang di kampung Karso juga gigih dalam bekerja, mereka memahami bahwa kesuksesan harus ditempuh dengan istiqomah dan penuh ujian. Kuncinya berserah pada Gusti Alloh. Tiada tempat lain untuk berkeluh dan mengeluh kecuali di atas sajadah dalam kesendirian berinteraksi denganNya. Sementara di kota, pernak pernik dunia menempel di langit dan angin. Kebiasaan gigih makin mengendur sebab manusia ingin segala sesuatu dengan instan. Mau kaya, instant. Mau sukses instant. Mau terkenal juga bisa dengan cara instant. Caranya beraneka ragam. Hal-hal demikian bisa dirasakan oleh Karso. Bahkan bersikap kepada sesama makhluk saja disikapi dengan instant.

            Hal itu terjadi pada Karso. Ketika doa-doa dan shalawat yang disenandungkan oleh emak bapaknya mengantarkan Karso menjadi karyawan, Karso justeru dilanda ujian. Ia harus berada di sebuah perusahaan besar yang krisis akan kemanusiaan. Kerap kali Karso mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya. Seperti misalnya yang terjadi sebulan belakangan, gaji yang diterima Karso tidak sesuai dengan upaya dan kerja kerasnya. Dia bahkan kerap kali diperlakukan tidak adil oleh atasan beserta jajarannya. Karso dan teman-temannya diminta bekerja lebih dari waktu yang seharusnya, mereka tidak menerima bayaran yang semestinya. Bahkan Karso pernah dianggap sebagai hama lantaran membela temannya yang tidak mendapatkan gaji semestinya.

Suatu hari ketika Karso jatuh sakit, atasan dan jajarannya bersikap acuh dan tidak memperdulikan dirinya. Ada banyak kisah lain yang datang menghampiri Karso. Kisah kawan seperjuangannya yang juga diperlakukan tidak manusiawi. Mereka sadar, bahwa mereka dijadikan sapi perah yang tidak diberi nutrisi dan jaminan layak dan sepantasnya. Mereka sadar bahwa kedzoliman datang mendekati hari-hari mereka.

            Karso yang geram dengan situasi kerja demikian akhirnya angkat bicara. Ia menemui bosnya. Dengan tatapan tidak senang, bos itu menyalahkan Karso. Tetapi Karso diam saja saat itu. Ia menghargai apa yang dikatakan bosnya, tetapi dalam hatinya ia berdoa semoga kedzoliman yang Karso dan temannya dapatkan dapat menjadi berkah dalam hidup mereka.

“Hidup di kota memang harus siap nrimo, Gus.” Kata Karso kepada Agus teman kerjanya ketika mereka duduk di warung kopi samping kantor.

“Nggih, Mas.” Jawab Agus sekenanya. Matanya penuh keputusasaan.

“Menerimo bahwa kerja bisa siku-sikutan. Bikin lingkaran untuk menguasai, entah menguasai kedudukan atau tempat kerja. Macam-macam motifnya. Kalau kita tidak berada dalam lingkaran mereka, ya jadi ampas kita, jadi orang pinggiran yang selalu disalahkan, kemudian dianggap buruk hanya karena tidak sepaham. Kerja di kota, harus siap dengan semua resikonya, alasannya jelas karena kita dibayar. Tapi hati jangan sampai kalah, Gus. Gusti Alloh Yang Maha Kaya saja tidak belagu, kok. Manusia yang tidak punya apa-apa kok belagu. Nanti juga kena batunya.”

“Wedhus!! Dibayar apa? Aku ndak dapat gaji sebulan kemarin dan begitu gajian penghitungan gajiku salah, So. Asu memang mereka, memainkan rejekiku seenaknya padahal rejeki itu untuk hidupku dan keluargaku. Kamu masih mending, So, masih bujang. Aku sudah beristri dan punya seorang anak. Ada manusia yang wajib kunafkahi, kalau begini cara permainannya apakah mereka tidak dzolim pada karyawan-karyawannya. Waktu kita dirampas, tenaga kita diperas.”

“Cari kerja lain, Gus, itu sikap yang paling waras.”

“Nyari ya sudah, So tapi Gusti Alloh belum memberikan. Saya mau berpasrah saja padaNya. Semakin besar kedzoliman mereka, semakin berkah hidup saya.”

“Kalau begitu jangan mengeluh, Gus.”

“Tapi saya itu manusia biasa yang gampang mengeluh. Ke kamu saja manusia yang sering mendengar keluhan saya. Kalau sama Gusti Alloh saban waktu.”

            Mereka berdua tertawa dan menghabiskan secangkir kopi yang mulai adem lalu beranjak meninggalkan warung. Tetapi langkah mereka terhenti di halaman depan gedung bertingkat itu. Karso dan Agus saling memandang, kemudian memandang kembali gedung itu. Pikiran mereka sejenak mengarungi ruangan kerja dan bagaimana setiap tenaga yang akan mereka kerahkan lagi untuk meraih rejeki.

Ya Gusti Alloh, Engkauhlah pemilik dunia lahir batin. Berkahi kami dan kuatkan kami dalam kedzoliman hingga Kau keluarkan kami dan menempatkan kami pada tempat yang layak.

“Yoh, kerja maning!” Teriak Karso seakan memberikan semangat kepada dirinya dan kawannya yang berdiri di sampingnya.

“Yo!!! Kita kerja buat siapa?” tanya Agus dengan penuh semangat.

“Gusti Alloh!”

Oleh D

Umah Ibu, 3 Juni 2019

Puasa Yang Berbeda

Ini bukan essay,
bukan juga makalah.
tapi cerita tentang bagaimana zaman berubah dan mengubah kebiasaan.

Di tahun-tahun ketika aku SMP, anak-anak seusiaku punya kebiasaan tersendiri menyambut bulan puasa. Saban hari, ketika usai sembahyang tarawih, kami menyalakan petasan. Petasan kentut (hanya keluar asap yang berwarna-warni), petasan lempar yang bunyinya “tuk”. Dari petasan itu muncul imajinasi seperti bermain sesembahan atau mengelilingi petasan kentut yang keluar asap, seolah kami adalah manusia purba. Tidak hanya itu, berbagai permainan juga meramaikan jalanan rumah. Main batu tujuh, bentengan, kucing dan anjing, orang kaya dan miskin, gangsing atau bahkan sekadar main kotak pos. Kami tidak menyentuh gadget, kami sibuk, amat sibuk mengisi pikiran dengan permainan.

Selepas bermain dari sembahyang tarawih, di jam 9 atau lewat, kami masuk rumah masing-masing. Begitu sahur dan menjelang subuh, kami akan keluar rumah dan sembahyang berjamaah di masjid. Kalau zaman sekarang masjid ramai hanya di hari awal puasa, zaman saat aku kecil tidak demikian. Karena subuh ada waktu yang asik untuk sembahyang setelahnya bermain. Justeru tidak menjadi soal bagi kami untuk olahraga jogging di area Regency selepas subuh. Kami manjat ke tanggul belakang komplek dan akan jalan menyusuri jembatan, di bawahnya kali dan banyak semak-semak. Kami tidak takut, justeru ini petualangan yang menyenangkan. Biasanya kalau jogging, kami hanya jalan-jalan saja di area Regency, pulang-pulang jam 10 pagi, sampai di rumah tinggal mandi dan tidur sampai siang. Atau, kalau kami tidak jogging ke Regency, kami akan main kartu di depan rumah, main masak-masakan, gundu atau bermain monopoly. Ya, dulu, monopoly jadi permainan seru. Tanpa sadar, sebenarnya kita sedang belajar mengatur strategi.

Tidak hanya sibuk bermain di bulan puasa, kami; aku dan teman-teman rumah ikut pesantren kilat yang diadakan di komplek. Kami berburu hapalan, berbondong-bondong ikut supaya bisa ngaji Al Quran. Apalagi saat zaman SD, pesantren kilat paling dinanti-nanti. Dan tentu saja yang juga berkesan di bulan puasa pada zaman itu adalah ketika selepas tarawih, anak-anak sekolah sibuk berburu tanda-tangan imam tarawih karena mendapat buku ramadhan dari sekolah dan harus diselesaikan.

Itu dulu, zaman ketika gadget belum menjadi berhala untuk anak-anak kecil. Zaman ketika bermain tidak pernah menjadi penghalang dalam belajar untuk tetap berpuasa. Permainan yang menjadikan kami belajar untuk menjaga pertemanan dan persahabatan. Permainan yang tidak diukur dengan nilai uang, tetapi menanamkan nilai-nilai kemanusiaan untuk saling menjaga, mendengarkan, dan berbagi.

Jika kemudian kita tengok hari ini, kerinduan-kerinduan akan puasa di zaman dulu itu mengukir keras di jejak aspal. Tentu saja, berubahnya zaman mengubah kebiasaan, tidak ada lagi tradisi main petasan kentut dan memutarinya seperti orang-orang zaman purba dalam dongeng atau cerita yang kami ketahui, atau jogging ke Regency dengan manjat tanggul dan menyebrangi jembatan, bermain monopoly ataupun kartu. Sekarang, anak-anak sibuk menggelar youtube dengan banyak channel yang konon mendidik. Entahlah.

Bagaimanapun,
perubahan yang terjadi saat ini harus disambut dengan keikhlasan dan kemantapan.

Selamat Berpuasa bagi yang menjalankan.
Damai untuk kita semua, umat manusia.

Oleh D
Umah Bapak, 6 Mei 2019

Keberanian dan Kemanusiaan

Keamanan adalah bebas dari ketakutan dan kekerasan. Termasuk di dalamnya sentimen-sentimen rasis dan kebencian yang menjadi tempat tumbuhnya kekerasan. Setiap orang bisa mengambil peran; untuk mengubah atau membiarkannya begitu saja.

Banyak sekali terjadi ketimpangan moral di negeri ini, dengan bekal bahwa kekuasaan dapat menjadi tameng besar membela diri. Selain itu sulitnya menerima perbedaan yang menyebabkan munculnya serat-serat kebencian. Padahal Indonesia dan lebih besar lagi, dunia terdiri bukan hanya satu suku saja, melainkan banyak suku, etnis dan budaya termasuk agama. Tragedi pembunuhan atas muslim yang sedang menjalankan ibadah solat jumat di NewZealand adalah luka bagi seluruh umat. Saya yakin bahwa pelaku ingin mengambil ketenaran dari peristiwa ini demi maksudnya yang lain, dan memang seperti musibah-musibah serangan teroris yang lain, kita selalu menyebutkan nama dari pelaku, bukan mengenang siapa saja yang menjadi korban dari kebiadaban teroris itu. Padahal mereka punya maksud terselubung dengan adanya serangan tersebut. Maka, tak pantas kita menyebut namanya, membiarkan masyarakat hanya mengingat manusia biadab itu dan melupakan mereka yang mati dengan cara bar-bar.

Teroris bukanlah islam, bukan juga kristen atau penganut agama lain. Teroris tidak punya agama, karena dia tidak menebar cinta kasih sebagaimana banyak agama mengajarkan hal demikian. Teroris hanya punya kebencian dan kemarahan dan di matanya hanya berisi sorotan dendam yang datang dari definisi kebenaran yang keliru. Maka, jangan pernah salahkan muslim, jangan juga salahkan nasrani atau mereka yang beragama hindu, Buddha, atau yang memiliki keyakinan kejawen sekalipun. Karena mereka yang masih percaya pada Tuhannya, tidak akan membunuh dan mematikan saudaranya dengan cara brutal dan penuh kebencian.

Sentimen rasis bisa tumbuh dimana saja yang kemudian menjadi tempat kekerasa berasal. Bahkan di sekolah-sekolah. Misal, meledek apa agamanya, suku dan etnisnya. Itu adalah bagian dari rasis yang bahkan seorang anak kecil saja bisa melakukannya. Dan saat ini, anak kecil ditarik sebagai alat politik demi memenangkan kubu yang bergairah untuk memangku kekuasaan.

Anak-anak diajak berdemo, berteriak Allahuakbar tanpa mereka sendiri bingung untuk apa mereka berteriak demikian, siapa yang mau mereka bela, Allah atau segelintir orang yang menjanjikan uang Rp. 20.000 untuk mereka? Anak kecil dilatih untuk benci terhadap orang lain karena unsur politik dan kebencian lahir dari sana. Hal itu juga didorong oleh beberapa faktor lain seperti kemiskinan. Apapun akan dilakukan asal bisa bertahan hidup dan oleh karena itu banyak kelompok-kelompok ekstrim yang terdiri dari orang-orang lemah. Lemah secara finansial akibat kemiskinan yang diterimanya dan lemah moral karena tidak ada edukasi dan lingkungan buruk yang penuh dengan sentimen kebencian, rasis dan pergaulan bebas, juga terbiasa dengan menyebar hoax untuk meraih keuntungan.

Dari hal ini dibutuhkan lebih banyak pemimpin dan intelektual yang bukan sekadar memahami teori di bangku perkuliahan tetapi dengan moral yang kuat karena spiritual dalam dirinya menyala. Bukan hanya pemimpin laki-laki dalam memainkan peran menjaga kestabilan negara tetapi juga perempuan. Dimana perempuan menjadi pilar untuk terciptanya kehidupan yang damai. Sebab ia guru paling dekat untuk mengajarkan anak, mata paling dekat untuk melihat bagaimana seseorang disampingnya tumbuh menjadi anak yang mencintai negerinya dan menyayangi sesama. Kita butuh pemimpin perempuan yang bukan sekadar intelektual tetapi juga dengan asupan moral yang baik untuk membesarkan hati peradaban dari krisis kepedulian atau bahkan kiris sikap pemberani yang tengah melanda dunia secara global sebab egoism identitas dari ketimpangan ekonomi yang terus disembunyikan.

Perempuan bukan makhluk yang lemah, sebab ia bisa setara dengan laki-laki dalam menjaga tatanan bangsa dan dunia, berperan penting dalam mengurangi kebencian dan rasis yang menyebar di tengah masyarakat.

Tidak peduli apa agama, suku, agama dan jenis kelaminmu, keberanian membela yang lemah dan membela tanah air harus tumbuh dalam diri sendiri.

Oleh D

Rumah Ibu, 21 Maret 2019

If they hear you, they hunt you.

Sebuah catatan film A Quite Place

Film thriller yang benar-benar menegangkan ini membuat saya enggan memalingkan mata selain menatap setiap adegan-demi adegan. Film ini sungguh keren, selain menegangkan, haru dan juga menyedihkan. Ketegangan dibangun sejak awal film ini merekam adegan pertama. Kota yang lengang dan porak poranda, kendaraan berdebu-kaca mobil pecah, lampu lalu lintas roboh, daun kering sepanjang jalan, barang-barang di toko swalayan berantakan. Saya sendiri tidak tahu nama setiap pemain dalam film tersebut karena nama ini diketahui setelah kredit penutup diputar. Hanya ada satu keluarga yang selamat dari kekacauan besar itu. Mereka semua tinggal di swalayan yang sudah berantakan, menggunakan bahasa isyarat-menghindari adanya suara yang terdengar dan berjalan tanpa alas kaki. Untuk bisa tetap hidup, mereka hanya perlu diam.

Adegan pertama film ini tidak membiarkan penonton nyaman, karena John Krasinski; sutradara sekaligus tokoh utama dalam film ini (sebagai ayah) menghadirkan adegan dimana mereka semua harus berjalan di jalan setapak yang berpasir. Barisan terakhir adalah anak ketiga mereka yang usianya 4 tahun. Dia membawa roket mainan dengan batrai. Dan saat hendak menyebrangi jembatan, mainan itu dinyalakan. Tak butuh waktu lama, makhluk aneh yang mungkin datang dari planet lain langsung membunuhnya. Lee (John Krasinski) tak bisa menyelamatkan anaknya. Perjalanan mereka lanjutkan hingga menemukan rumah yang jauh dari kota. Terdapat luasnya padang jagung di sekitar rumah.

Film ini diperankan oleh Emily Blunt sebagai Evelyn Abbott (ibu), John Krasinski sebagai Lee Abbott (ayah) dan 3 orang anak, tetapi anak ketiga mereka mati dibunuh oleh makhluk aneh karena memainkan roket mainan. Dua anak lainnya yang bertahan adalah Marcus Abbot (Noah Jupe) dan Regan Abbott (Millicent Simmonds).

John membangun rumah dengan keamanan tinggi, dia menaburkan pasir di sepanjang jalan supaya langkah kaki mereka tidak terdengar makhluk itu, lampu yang banyak diluar rumah sebagai pertanda bila keadaan darurat dan ruangan bawah tanah sebagai tempat berlindung. Tidak hanya itu, ruang kerja John dipenuhi layar televisi guna menangkap frekuensi dan mencari tahu bagaimana memusnahkan makhluk itu.

A Quite Place adalah film thriller yang cerdas. Film ini dijahit dengan sangat rapih, setiap adegan saling berhubungan dan detail yang disorot selalu punya maksud untuk adegan berikutnya. Saat makluk aneh itu muncul pertama kali-ketika membunuh anak ketiganya, hanya terlihat bayangan hitam, membuat penonton semakin penasaran dan berpikir makhluk seperti apa yang dijadikan musuh utama dalam film ini. Kejutan-kejutan kecil muncul dari hal yang tidak diduga. Seperti lampu yang biasanya dijadikan sebagai penerang ketika malam, ternyata menjadi pertanda lampu darurat dan berubah warna menjadi merah terang. Peti yang disiapkan untuk menyimpan bayi mereka yang akan lahir, tempat berlindung di bawah tanah, kembang api untuk mengganggu fokus makhluk itu saat hal buruk menimpa mereka. John membuat setiap adegan begitu berarti dan padat.

Film ini tak butuh banyak dialog, karena dari ketenangan dan ketegangan dari acting mereka membuat penonton terjebak oleh rasa penasaran dan takut. Ketika kata terbungkam, justru acting aktor menjadi penentu.

Salah satu adegan yang menyebalkan adalah ketika anak perempuan mereka kabur dari rumah. Saya kira Regan mencari ayah dan adiknya tetapi tidak, dia datang ke tempat dimana adik ketiganya mati dicabik-cabik monster itu. Pada adegan itu terlihat jelas bahwa Regan adalah anak perempuan cerdas, ia membawa roket yang menjadi penyebab kematian adiknya, dan mematikan kabel suara sehingga roket bisa dinyalakan dan diletakan di kayu salib sebagai tanda makam. Tetapi dari adegan ini kita pun bisa melihat keterangan waktu yang dipilih oleh John sebagai latar adanya monster ini.

Adegan lain yang penuh kejutan dan sangat menegangkan adalah ketika Evelyn mau melahirkan. Kakinya tertusuk paku. Aw! Saya tidak bisa membayangkan, ketika ia menjerit sebentar kemudian harus membungkam mulut dan menahan rasa sakitnya. Karena makhluk itu mendengar jeritan Evelyn. Di saat yang bersamaan, ia akan segera melahirkan. Maka ia mencari cara untuk mengalihkan makhluk itu dan berpindah tempat mencari tempat aman untuk melahirkan. Inilah momen paling menegangkan, sangat menegangkan, ketika ia harus menahan untuk tidak melahirkan (yang itu merupakan ketentuan alam) sementara makhluk itu berada persis dibelakangnya. Ia terselamatkan karena anak laki-lakinya menyalakan kembang api untuk mengubah fokus makhluk itu,itulah momen yang digunakan Evelyn untuk melahirkan.

Saya sebagai perempuan tidak bisa membayangkan keadaan dimana dia menahan diri untuk tidak melahirkan disaat waktu yang seharusnya melahirkan dan disaat dia harus melahirkan seorang diri. Silent acting ini yang membuat penonton terpaku, berurai air mata dan tenggelam pada rasa takut dan tegang.

Dari semua adegan yang menegangkan ini, tak kalah menegangkan ketika John menyelamatkan kedua anaknya dari kejaran makhluk itu. Iapun merelakan dirinya demi anak-anaknya selamat. Pada momen itulah saya menangis. Membayangkan betapa tertekannya hidup mereka dan ketika menyaksikan ayah mereka mati di tangan monster, sementara ayah merekalah yang selalu berusaha menjaga dan melindungi mereka.

Pagi mulai datang, bukan berarti ancaman hilang, ancaman tidak pernah hilang selagi masih ada suara. Monster itu datang sampai ke ruang kerja John. Regan akhirnya mengerti bagaimana caranya menaklukan monster itu setelah membaca berbagai macam tulisan sang ayah. Dia pun menyalakan alat dengar frekuensi yang diberikan John kepadanya dan ditempelkan ke speaker, sehingga tampak monster itu menahan sakit dan kualahan, disaat itulah Evelyn membunuh monster yang datang dengan tembakan. Tetapi ternyata monster itu bukan hanya satu, banyak yang berdatangan. Akhir film ini pun masih juga menegangkan karena ditutup dengan tatapan mata antara Evelyn dan Regan. Hebat dan keren! Film ini layak, super layak untuk ditonton.

Oleh D

Pondok Kacang, 25 Januari 2019

Keberanian Cinta

Sebuah catatan Film Sex and Lucia

Sex and Lucia adalah film drama Spanyol yang rilis di tahun 2001 ditulis dan disutradarai oleh Julio Medem. Film ini membawa pulang Penghargaan Goya untuk Aktris Terbaik yang diperankan oleh Paz Vega, tidak hanya itu saja, ia juga memenangkan Aktris Terbaik dalam Ondas Award for Cinema di tahun yang sama. Film ini menjadi begitu istimewa karena ada sentuhan musik dari Alberto Iglesias dan mampu meraih Penghargaan Goya untuk Lagu Orisinil Terbaik. Film ini sesuai dengan judulnya, Sex and Lucia, bercerita tentang perjalanan hidup Lucia dan pengalaman sex. Di akhir kisah ini, secara subjektif saya katakan bahwa kita bisa mengambil pelajaran setelah menontonnya.

Sinopsis:

Lucia adalah seorang pelayan restoran yang mengagumi Lorenzo (Tristan Ulloa); seorang penulis dengan karya-karyanya yang sudah dikenal banyak orang. Mereka bertemu di sebuah restoran bersebrangan dari tempat kerja Lucia. Ketika Lorenzo sedang mengambil minum, Lucia memanggilnya dan mengajaknya berbicara. Dengan keberaniannya, ia menyampaikan bahwa dirinya mengangumi Lorenzo, dia bahkan mengetahui dimana rumah Lorenzo dan pergi kemana saja lelaki itu setiap harinya. Pada pertemuan pertama ini juga, Lucia mengatakan ia bukan hanya mengagumi Lorenzo dari karya-karyanya yang mampu membawa Lucia tenggelam dalam kisahnya, tetapi ia tidak ingin keluar dan semakin ingin tenggelam dan mencari tahu seperti apa Lorenzo. Dia katakan bahwa, ia mencintainya dan Lorenzo akan mencintainya juga seiring waktu.

Kaget dengan keberanian Lucia, perempuan yang baru saja ia temui membuat Lorenzo gugup bukan kepalang. Tetapi kemudian ia mencobanya. Mereka pergi ke klub di hari yang sama dan bercinta di rumah Lorenzo. Sejak hari itulah, mereka meniti waktu bersama.

Tapi bukan itu adegan pembuka dari film Sex and Lucia. Melainkan potongan adegan saat Lucia ditinggalkan oleh Lorenzo karena beban persoalan yang ditanggung oleh Lorenzo. Sebuah beban yang datang dari masa lalu Lorenzo ketika ia bertemu dengan perempuan dan bercinta di bawah rembulan, di pulau kelahiran dan tepat di hari lahir Lorenzo. Peristiwa itu menjadi bibit masalah yang harus dihadapi Lorenzo, sebab perempuan yang bercinta dengannya di pulau itu hamil dan melahirkan seorang anak. Tetapi dari tahun ke tahun mereka tidak bertemu hingga anak itu tumbuh besar. Inilah yang membuat Lorenzo menyimpan rapat masalahnya dan pergi dari Lucia.

Lucia, perempuan berani yang mengatakan ia begitu mencintai Lorenzo mendatangi pulau itu, pulau yang bersejarah dimana Lorenzo dilahirkan dengan maksud mencari keberadaan Lorenzo. Di pulau itulah, Lucia mengetahui semua rahasia yang selama ini disimpan oleh Lorenzo. Cerita-cerita yang ditulis Lorenzo dan dibaca oleh Lucia adalah kisah nyata diri Lorenzo dan kisah itu dibagi kepada perempuan yang melahirkan anaknya. Tetapi Lucia mau menerima semua beban itu, menerima kenyataan hari itu yang tak terlepas dari masa lalu Lorenzo. Cintanya pada Lorenzo tidaklah padam.

Hingga kemudian, Lorenzo yang sempat meninggalkan Lucia dengan cara bunuh diri, sadar bahwa dirinya mencintai Lucia dan dia datang ke pulau kelahirannya, Madrid. Disanalah, rahasia itu dibuka dengan pelan, tanpa banyak kata yang diilontarkan, hanya dengan air mata dan pelukan. Lucia menyambut kembali kekasihnya. Dan Elena; perempuan yang melahirkan anak dari Lorenzo menerima bahwa cinta Lorenzo untuk Lucia.

Review:

Film ini memang berkisah tentang perjalanan Lucia dan sex. Bukan hanya sex yang dialami oleh Lucia tetapi juga dialami oleh Lorenzo. Bagaimana dengan cinta dan keyakinan, Lucia memberanikan dirinya untuk menerima Lorenzo. Permainan sex dalam film ini ditunjukan begitu eksplisit. Lucia dan Lorenzo memainkannya dengan total. Tetapi film ini bukan film yang mudah ditebak begitu saja, atau dengan alur sederhana. Penonton dibuat berpikir ketika muncul Luna; anak dari Lorenzo tumbuh besar. Pada adegan-adegan ini, kisah tidak dijelaskan secara jelas, tetapi menggunakan pengibaratan. Dan justeru inilah yang membuatnya begitu menarik.

Persoalan yang dihadirkan bukan secara begitu saja disajikan, tetapi dikemas dengan baik, dibantu dengan gesture, mimik dari setiap pemain membuat adegan bisa terjelaskan. Seperti adegan dimana setelah Lorenzo membacakan cerita pengantar tidur kepada Luna, ia didatangi Belen; adik dari Elena yang menggodanya untuk bermain cinta. Ketika Belen meraih tangan Lorenzo, muncul bayang-bayang Luna dan masalah-masalahnya. Hingga adegan dimana ketika Belen menggoda Lorenzo dan bercumbu di kamar, seseorang masuk ke dalam kamar, dialah Luna tetapi segera mungkin Lorenzo menutupnya. Ketika ia menutup pintu, barulah ia sadari anaknya mati di makan anjing penjaga rumah itu.

Tidak terjelaskan dengan kata, tetapi setiap adegannya mampu mewakili apa yang terjadi, dan menjadi petunjuk untuk adegan berikutnya. Film ini bukan sekadar membahas sex tetapi tentang tanggung jawab yang dimiliki seseorang dalam menjalani kehidupan. Tentang cinta, kasih, birahi dan ego.

Saya secara subjektif menyukai ending dari film ini, dimana Lorenzo ingin mengubah takdirnya dengan ia mengubah cerita yang ditulis olehnya. Ia bertanggung jawab atas Elena dan anaknya, tetapi perempuan yang dicintai dan tinggal bersamanya hanyalah Lucia.

Film ini memang film sex drama, tetapi muatan nilai yang bisa diambil bukan sekadar bagaimana cara kita membahasakan birahi semata, tetapi menyadari ada tanggung jawab yang dipikul setiap orang dan masa lalu adalah pelajaran yang harus diselesaikan detik itu, bukan nanti.

Oleh D

Rumah Ibu, 5 April 2019